Kamis, 22 Desember 2011

PERAN GURU DALAM MEMBANGKITKAN MINAT SISWA TERHADAP MATEMATIKA


Dalam Undang-Undang RI No. 20 Th. 2003 Tentang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) Pasal 37 ditegaskan bahwa mata pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran wajib bagi siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Artinya Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang harus dikuasai oleh siswa.
Disisi lain, Matematika memang seharusnya menjadi salah satu ilmu dasar yang harus dikuasai oleh siswa, karena konsep matematika tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari. Matematika selalu mengalami perkembangan yang berbanding lurus dengan kemajuan sains dan teknologi. Sayangnya hal tersebut kebanyakan tidak disadari oleh sebagian siswa yang disebabkan minimnya informasi mengenai apa dan bagaimana sebenarnya matematika itu. Hal ini membuat siswa merasa mempelajari sesuatu yang tidak jelas ketika mereka mempelajari Matematika.
Salah satu kunci permasalahan ini tidak lain adalah Guru Matematika itu sendiri. Metode pembelajaran yang disuguhkan kerap menjadi titik paling nyaman untuk dikritik. Karenanya, guru memegang peranan penting dalam membentuk main set siswanya terhadap Matematika.
 Hal yang Menghambat Minat Siswa terhadap Matematika
Selama ini masyarakat memiliki persepsi (mitos) negatif terhadap matematika. Sebagaimana yang dikemukakan Frans Susilo dalam artikelnya di Majalah BASIS yang berjudul Matematika Humanistik, bahwa kebanyakan sikap negatif terhadap matematika timbul karena kesalahpahaman atau pandangan yang keliru mengenai matematika. Untuk memahami matematika secara benar dan sewajarnya, pertama-tama perlu diklarifikasi terlebih dahulu beberapa mitos negatif terhadap matematika. Beberapa di antara mitos tersebut, antara lain: pertama, anggapan bahwa untuk mempelajari matematika diperlukan bakat istimewa yang tidak dimiliki setiap orang. Kebanyakan orang berpandangan bahwa untuk dapat mempelajari matematika diperlukan memiliki kecerdasan yang tinggi, akibatnya yang merasa kecerdasannya rendah mereka tidak termotivasi untuk belajar matematika.
Mitos kedua, bahwa matematika adalah ilmu berhitung. Kemampuan berhitung dengan bilangan-bilangan memang tidak dapat dihindari ketika belajar matematika. Namun, berhitung hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan isi matematika. Selain mengerjakan penghitungan-penghitungan, orang juga berusaha memahami mengapa penghitungan itu dikerjakan dengan suatu cara tertentu.
Mitos ketiga, bahwa matematika hanya menggunakan otak. Aktivitas matematika memang memerlukan logika dan kecerdasan otak. Namun, logika dan kecerdasan saja tidak mencukupi. Untuk dapat berkembang, matematika sangat membutuhkan kreativitas dan intuisi manusia seperti halnya seni dan sastra. Kreativitas dalam matematika menyangkut akal-budi, imajinasi, estetika, dan intuisi mengenai hal-hal yang benar. Para matematikawan biasanya mulai mengerjakan penelitian dengan menggunakan intuisi, dan kemudian berusaha membuktikan bahwa intuisi itu benar. Atau dengan kata lain untuk dapat mengembangkan matematika tidak hanya dibutuhkan kecerdasan menggunakan otak kiri saja, melainkan juga harus mampu menggunakan otak kanannya dengan seimbang.
Mitos keempat, bahwa yang paling penting dalam matematika adalah jawaban yang benar. Jawaban yang benar memang penting dan harus diusahakan. Namun, yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana memperoleh jawaban yang benar. Dengan kata lain, dalam menyelesaikan persoalan matematika, yang lebih penting adalah proses, pemahaman, penalaran, dan metode yang digunakan dalam menyelesaikan persoalan tersebut sampai akhirnya menghasilkan jawaban yang benar.
Mitos kelima, bahwa kebenaran matematika adalah kebenaran mutlak. Kebenaran dalam matematika sebenarnya bersifat nisbi. Kebenaran matematika tergantung pada kesepakatan awal yang disetujui bersama yang disebut ‘postulat’ atau ‘aksioma’. Bahkan ada anggapan bahwa tidak ada kebenaran (truth) dalam matematika, yang ada hanyalah keabsahan (validity), yaitu penalaran yang sesuai dengan aturan logika yang digunakan manusia pada umumnya.
Kelima mitos yang dikemukakan Frans Susilo diatas hanyalah sebagian kecil mitos yang beredar di masyarakat. Masih banyak mitos-mitos dan anggapan miring yang beredar di masyarakat yang membuat minat siswa terhadap matematika menjadi macet.
Salah satu anggapan miring yang agak populer dimasyarakat awam adalah anggapan bahwa Matematika tidak berguna dalam kehidupan. Ini adalah anggapan yang sangat keliru. Matematika justru sangat bertanggung jawab atas kemajuan-kemajuan yang secara progresif dicapai oleh manusia dewasa ini. Dimana perkembangan ilmu matematika selalu berbanding lurus dengan perkembangan sains dan teknologi Beberapa pakar pendidikan matematika menyebutkan bahwa matematika adalah “ratu” dari segala disiplin ilmu (Tarmidi, 2006). Matematika merupakan kunci ilmu pengetahuan. Memang pernyataan tersebut tidaklah berlebihan mengingat berbagai fakta menyebutkan demikian. Ilmu komputer tidak akan berkembang secanggih saat ini jika sebelumnya tidak diperkenalkan bilangan biner (Wahyudin dan Sudrajat, 2003)

                 Peran Guru Dalam Membangkitkan Minat Siswa Terhadap Matematika

Robert M. Gagner, (dalam Usep Supriatna, 2009) menyatakan, ada dua kondisi belajar sisiwa, pertama, kondisi belajar internal, yaitu kondisi yang mempengaruhi belajar siswa yang ditimbulkan oleh mereka sendiri, seperti motivasi belajar, keadaan psikologis, pikiran dan sebagainya. Kedua, kondisi belajar ekstenal, yaitu kondisi yang ditimbulkan dari luar mereka, dalam hal ini adalah lingkungan belajar siswa.
Berdasakan hal tersebut diatas, maka terdapat peran penting seorang Guru untuk meningkatkan minat belajar siswa terhadap Matematika dengan menciptakan kondisi belajar eksternal yang kondusif bagi siswa. Peran guru yang sangat mendasar adalah membangkitkan motivasi dalam diri peserta didiknya agar semakin aktif belajar. Menurut Usep supriatna (2009), ada dua jenis motivasi, yakni motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik ialah motivasi atau dorongan serta gairah yang timbul dari dalam peserta didik itu sendiri, misalnya ingin mendapatkan penghargaan dari teman terutama Guru, ingin mendapat nilai yang baik sebagai bukti “mampu berbuat”. Motivasi ekstrinsik mengacu kepada faktor-faktor luar yang turut mendorong munculnya gairah belajar, seperti lingkungan sosial yang membangun dalam kelompok, lingkungan fisik yang memberi suasana nyaman, tekanan, kompetisi, termasuk fasilitas belajar yang memadai dan membangkitkan minat. Dalam pembelajaran matematika, motivasi itu sangat penting. Untuk membangkitkan motivasi intrinsik, siswa diingatkan akan pentingnya belajar matematika untuk memecahkan persoalan hidup sehari-hari, seperti perhitungan, pengukuran dan sebagainya, siswa juga selayaknya diakrabkan dengan persepsi positif tentang Matematika terlebih lagi peran besar Matematika dalam kehidupan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Guru juga berperan sebagai penyaring persepsi-persepsi yang salah mengenai Matematika.
Selain membangkitkan motivasi, Guru juga harus bisa memberikan pengajaran yang menarik. Karena meskipun siswa termotivasi untuk belajar Matematika, tapi jika Guru memberikan pengajaran dengan cara yang tidak menarik atau cenderung membosankan tentu akan mematikan motivasi siswa itu sendiri.
Metode pengajaran matematika disekolah sayangnya belum cukup memotivasi belajar siswa,dimana kebanyakan guru menekankan siswa hanya belajar matematika dengan mendengarkan penjelasan guru, menghafalkan rumus, lalu memperbanyak latihan soal dengan menggunakan rumus yang sudah dihafalkan, tetapi jarang sekali memberikan makna yang sebenarnya tentang tujuan pembelajaran matematika itu sendiri. Hal ini penting agar siswa mempelajari Matematika secara utuh, tidak sebatas mengenal matematika sebagai kumpulan angka, simbol dan rumus belaka, tapi juga mengetahui apa, bagaimana, dan untuk apa mereka mempelajari Matematika. masih banyak siswa yang menganggap bahwa matematika tidaklah lebih dari sekedar berhitung dan bermain dengan rumus dan angka-angka Tidak jarang muncul keluhan bahwa matematika “cuma bikin pusing” dan dianggap sebagai momok yang menakutkan bagi siswa.
Seorang Guru Matematika sebaiknya lebih inovatif dengan mengajarkan Matematika yang lebih terkesan aplikatif terhadap kehidupan. Dengan begitu siswa akan lebih mengerti dan lebih terarah dalam mempelajari Matematika. Karena siswa tidak akan memiliki minat untuk mempelajari Matematika jika tidak tahu seperti apa matematika itu sendiri. Inilah mengapa Guru memegang peranan yang sangat penting dalam menumbuhkan minat siswanya terhadap matematika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar